Posted by: mowsaku2008 on: October 19, 2009
“Ia adalah seorang genie, genius. Ia yang dapat menggariskan haluan SI (Syarikat Islam) dengan tegas, ketika tantangan-tantangan tiba dari kalangan yang tidak hendak menyertakan agama ke dalam pergerakan. Dalil-dalilnya bersandar pada al-Quran, hadis dan riwayat-riwayat Nabi Muhammad saw., serta Islam pada umumnya.(Dr. Deliar Noer, “Membincangkan Tokoh-tokoh Bangsa”) Begitulah Dr. Deliar Noer menggambarkan salah satau Pahlawan Nasional Kita.
Bukan biografi tebal yang akan ditumpahkan dalam tulisan ini. Hanya sebagian “Screen Shot” kehidupan beliau Rohimahullau ta’ala sebagai seorang The “Grand Oldman” yang Mengagumkan. Berikut ini adalah dua kisah mengagumkan KH. Agus Salim yang menunjukkan Intelektualitas, Spiritualitas dan Integritas yang tinggi yang ditampakkan dihadapan dunia internasional.
Sebuah kisah yang sarat dengan ibrah, dalam salah satu konferensi besar Beliau makan dengan menggunakan tangannya, sementara ketika itu para peserta muktamar menggunakan sendok. Ketika sebagian anggota muktamar mencemooh dengan mengatakan “Salim, Sekarang tidak saatnya lagi makan dengan tangan, tapi dengan sendok”, pemuda cerdas ini menjawab penuh wibawa “tangan yang selalu saya gunakan ini selalu saya cuci setiap kali akan makan, dan hanya saya yang memakai dan menjilatnya. Sementara sendo-sendok yang kalian gunakan sudah berapa mulut yang telah menjilatnya”. Hadirin ketika itu malu terdiam. (Kisah versi lengkapnya dapat anda lihat disini)
Dalam sebuah rapat Sarekat Islam (SI), Haji Agus Salim saling ejek dengan Muso, tokoh SI yang belakangan menjadi orang penting dalam Partai Komunis Indonesia. Pada awalnya Muso memulai ejekan itu ketika berada di podium. “Saudara saudara, orang yang berjanggut itu seperti apa?” “Kambing!” jawab hadirin. “Lalu, orang yang berkumis itu seperti apa?” “Kucing!” Agus Salim tahu dialah sasaran ejekan Muso. Agus Salim memang memelihara jenggot dan kumis. Begitu gilirannya berpidato tiba, dia tak mau kalah. “Saudara-saudara, orang yang tidak berkumis dan tidak berjanggut itu seperti apa?” Hadirin berteriak riuh, “Anjing!” Agus Salim tersenyum, puas, lalu melanjutkan pidatonya. Agus Salim memang dikenal singa podium. Dia juga lihai berdebat, sehingga jarang ada yang mau melayaninya.
George McT. Kahin, professor di Universitas Cornell Amerika Serikat, mengungkapkan kesaksiannya sebagai berikut: “Saya mengundang kedua beliau itu bersantap di ruangan pertemuan tenaga pengajar, dan duduk di tengah kedua beliau itu saya terperangah. “ yang dimaksud beliau disitu adalah Ngo Dinh Diem, tokoh perjuangan kemerdekaan Vietnam Selatan, dan Agus Salim. Diem telah dikenal sebagai seorang yang senantiasa merajai setiap percakapan. Percakapan berlangsung dalam bahasa Prancis- bahasa yang paling dimahiri Diem. Namun, Haji Salim tetap mengungguli Diem, berbicara amat fasihnya, sehingga Diem tidak dapat peluang sedikitpun!”` Akankah muncul kembali “Agus Salim:The next Generation” ?
dari berbagai sumber, diantaranya serbasejarah.wordpress.com, abunakhla.blogspot.com
Recent Comments